Habib Syech bin Abubakar bin Muhammad Assegaf
Habib Syech bin Abubakar Assegaf, mungkin sebagian dari kita masih belum mengetahui siapa sosok beliau ini. Tetapi bagi warga Solo, Gresik, maupun Bangil (dan mungkin sebagian besar wilayah di Indonesia) pasti sudah familiar dengan sosok beliau. Berikut ini kami tuliskan sekelumit dari sejarah hidup beliau, yang banyak disampaikan oleh putra beliau yaitu Habib Muhammad bin Syech Abubakar Assegaf (Solo).
- Latar Belakang Beliau
Beliau Habib Syech bin Abubakar bin Muhammad bin Umar Assegaf, terus menyambung sampai dengan Sayyidina Rasulullah Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassalam. Beliau merupakan putra ke-dua dari Al-Quthub Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik). Beliau dilahirkan di kota Solo, Jawa Tengah pada tanggal 17 Juli 1925 bertepatan dengan 25 Dzulhijjah 1343 H, dari seorang ibu bernama Al-Hubabah Muzenah binti Alwi bin Syekh Aljufri Beliau sempat bermukim di Bangil dan Gresik. Hingga akhirnya menetap di kota Solo.
Dikisahkan Alhabib Abubakar pernah menyampaikan kepada salah seorang muridnya yang juga sering membaca qasidah di depan Habib Abubakar yaitu Al-Habib Muhammad bin Abubakar Assegaf, dengan berkata ya “Muhammad kelak akan ada anaku yang bernama Syekh nanti engkau akan menemaninya dan engkau akan membacakan qasidah untuknya”, dan ucapan Habib Abubakar terbukti dengan Habib Muhammad banyak menemani putra Habib Abubakar ini ( Habib Syekh) untuk membacakan qasidah untuknya. Dan bisyarah (kabar gembira) pernah pula diucapkan oleh Habib Abubakar ketika ke solo memberitahukan kepada keluarga calon istrinya bahwa beliau Habib Abubakar kelak akan mendapatkan seorang putra dari Hubabah Muzenah dan akan diberi nama Syech bertabarruk dengan nama kakek sekaligus guru beliau Al-Habib Syech bin Umar bin Seggaf.
- Masa Kecil Beliau
Ketika di usia belia, Habib Abubakar mengirim Habib Syech ke Hadhramaut untuk belajar, dan menimba ilmu di kota Sewun, semasa belajar pernah suatu ketika Habib Syech melakukan perjalan sendiri menuju ke kota Tarim tanpa dikawal siapapun di waktu siang yang sangat panas, karena kelelahan Habib Syekh sampai hampir pingsan, tiba-tiba datanglah seorang arab baduy dari gunung menghampiri beliau dan membawakan air, seraya mengantar Habib Syech pulang ke Sewun. Kisah ini rupanya terlupa oleh Habib Syech ketika pulang ke tanah air, dan ketika beliau berada dihadapan ayahnya (Habib Abubakar). Beliau menanyakan kejadian itu kepada Habib Syekh, lalu Habib Syekh menceritakannya, lalu Habib Abubakar bertanya, “tahukah engkau siapa orang yang datang membawakanmu minum dan mengantarmu pulang”?, Habib Syekh menjawab “tidak tau abah”, Habib Abubakar menjawab “itu adalah aku, walau aku tidak ada dihadapanmu tapi aku selalu bersama mu ya Syech”.
- Akhlak Beliau
Habib Syech bin Abubakar menjadi seorang pemimpin dan panutan pada zamannya. Beliau dalam kehidupannya selalu mencontoh dan berpegang teguh kepada para salafnya yang terdahulu dan tidak pernah melenceng sedikitpun, yang bersambung terus sampai kakek mereka yang agung yaitu Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi Wassalam. Majelisnya selalu penuh dengan pelajaran dan nasihat. Mulai dari perjalanan hidup para salafus sholeh serta pembacaan kitab-kitab dan kumpulan catatan perkataan para salaf-salaf pendahulunya.
- Guru-Guru Beliau

Habib Ali Kwitang (Tengah), Habib Salim bin Jindan (Kanan)
Beliau mendapatkan tarbiyah (pendidikan) langsung dari ayah sekaligus guru beliau, Al-Quthub Al-Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf. Sehingga melahirkan perilaku seseorang yang selalu memberikan kabar gembira dan petunjuk mana yang baik dan buruk, dan mengajarkan prasangka yang baik kepada setiap orang serta berusaha menutup kekurangan seseorang dengan nasehat-nasehat yang berisi hikmah serta perhatian berupa kasih sayang dan penglihatan yang dibalut rasa cinta juga mencurahkan perhatian kepada kemaslahatan umat serta berusaha mendamaikan permasalahan-permasalahan diantara umat. Menurut putra beliau Habib Muhammad bin Syech Assegaf, selain kepada ayah beliau sendiri, Habib Syech bin Abubakar Assegaf juga berguru kepada ulama lain seperti Habib Salim bin Jindan (Jakarta) dan Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Kwitang) serta mengambil keberkahan ilmu dari Al-Quthb A-Habib Abdulqodir bin Ahmad Assegaf (Jeddah).
- Peran Di Dalam Acara-Acara Besar
Adanya haul Gresik atau haul Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, tidak terlepas dari peran dan usaha beliau. Beliau yang menggagas pertama kali untuk diadakannya acara haul Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf di kota Gresik.
Selain di haul Gresik, beliau terkadang juga memimpin acara haul para Habaib di kota-kota lain, seperti haul Habib Ja’far bin Syaikhon Assegaf (Pasuruan), Habib Alwi Hasyimi Assegaf (Gresik) dan beberapa acara khatam Bukhari di Surabaya, Semarang, Bangil. Dan ketika ada acara besar seperti Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha di Masjid Jami Assegaf Solo (yang juga didirikan oleh oleh ayah beliau Habib Abubakar Assegaf), beliau menjadi imamnya.
- Kisah Beliau Dengan Para Ulama’
Di sekitar tahun 80-an, Indonesia mendapat keberkahan yang luar biasa, dengan kedatangan ulama-ulama besar dari negeri Hijaz dan Hadramaut. Banyak sekali ulama timur Tengah yang datang ke Indonesia dan Al-Habib Syekh menjamu mereka dengan jamuan istimewa karena beliau mengetahui kedatangan ulama-ulama tersebut pasti memberikan berkah ilmu dan kehidupan bagi masyarakat, diantara ulama-ulama itu adalah Prof. DR as-sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki ulama besar dari kota Mekkah dan Al-Quthb Habib Abdulqodir bin Ahmad Assegaf guru dari Al-Habib Syech itu sendiri.
Dengan As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki

As-sayyid Muhammad Al-Maliki (tengah), Habib Syech bin Abubakar Assegaf (Paling kanan)
Beliau Al-Habib Syech mengajak kepada As-sayyid Muhammad Al-Maliki yang waktu itu pertama kali datang ke Indonesia untuk berkunjung kebeberapa lembaga pendidikan, Al-Habib Syech memperkenalkan Sayyid Muhammad Al-maliki kepada Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun (Pendiri pondok pesantren Darullughah Wadda’wah, Raci, Bangil, Jawa Timur) sehingga As-sayid Muhammad merasa gembira dengan pondok pesantren Darullughah Raci Bangil, seraya mengaharap beberapa alumninya bisa belajar kepada beliau (As-sayyid Muhammad Al-Maliki) di Makkah Al-Mukarromah. Setelah dari Bangil, Sayyid Muhammad Al-Maliki berkunjung di kota Solo. Beliau menuju ke masjid Riyadh untuk berziarah dan bertemu Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi. Setelah itu menuju ke kediaman Habib Syech bin Abubakar Assegaf di kota Solo.
Dengan Al-Quthub Habib Abdulqodir bin Ahmad Assegaf

bersama Alhabib Syech bin Abubakar Assegaf saat ziaroh di Makam Alhabib Abubakar bin Muhammad Asssegaf Grsik
Dikisahkan oleh Habib Muhammad bin Syech Assegaf, bahwa kedatangan Habib Abdulqodir bin Ahmad Assegaf ke Indonesia membuat ayah beliau Habib Syech bin Abubakar Assegaf sangat bahagia. Karena, Habib Abdulqodir bin Ahmad Assegaf merupakan salah satu ulama’ sekaligus guru yang sangat dikagumi dan banyak menginspirasi di dalam memimpin majlis-majlis alkhoiriyah.
Selama AI-Habib Abdulqadir di Jawa Timur, Habib Syekh banyak mengikuti perjalanan rihlah beliau sehingga banyak sekali tatacara dan metode yang digunakan habib Abdulqadir dalam da’wahnya dijadikan contoh oleh Habib Syech, sehingga dalam bermunajat Al-Habib Syech banyak sekali meniru guru beliau ini, karena itu adalah suatu sir dalam munajat doa seorang wali min auliyaillah
- Kitab Karya Beliau

kitab Sabilul Wadhih
Tiga bulan sebelum meninggalnya beliau, atas permintaan dari banyak orang saat itu. Beliau menulis sebuah kitab yang berisi tentang tata cara para salaf sholeh alawiyyin dalam penyelenggaraan acara perkumpulan. Kitab tersebut berisi tentang pembacaan Alfatihah dengan niat-niat khusus, seperti pembacaan Fatihah ba’da sholat, Fatihah pada Hari Raya Idul Fitri, lafadz Akad Nikah, dan lain sebagainya. Kitab tersebut diberi nama Sabiilul Waadhih Liman Aroda Ayyaqtadi Bissalafusholih (Jalan Yang Jelas Bagi Siapapun Yang Ingin Mengikuti Salaf). Dan kitab ini sekarang banyak memberikan manfaat besar bagi generasi saat ini untuk mengikuti tradisi para salaf di dalam pembacaan doa dalam suatu acara menurut tuntuntan para salaf as-sholeh.
Kitab ini dibagikan kepada hadirin di haul Habib Abubakar yang terakhir dihadiri oleh Al-Habib Syech, sehingga sebagian hadirin merasa bahwa dengan tertulis dan terbaginya kitab ini seakan menjadi isyarat bahwa Al-Habib Syech tidak lama lagi akan meninggal dunia
- Wafatnya Beliau
Di penghujung usia dari beliau, Habib Syech bin Abubakar mengalami sakit tetapi di dalam sakitnya beliau selalu merindukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam, dan pada tanggal 12 Robi’ul Awwal 1418 H atau 17 Juli 1997 M beliau meninggal menuju hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam. Jenazah beliau disholatkan di Masjid Jami’ Assegaf dan dimakamkan di pemakaman Tipes, Solo. Dan sampai sekarang setiap tanggal 12 Robi’ul Awwal setelah pembacaan Maulid Nabi di Masjid Jami’ Assegaf, diadakan pembacaan tahlil dan Yasin untuk Habib Syech bin Abubakar Assegaf.
Penulis menanyakan kepada putra beliau Habib Muhammad bin Syech Assegaf, “apakah amalan Habib Syech bin Abubakar Assegaf sehingga beliau bisa meninggal di tanggal 12 Robi’ul Awwal bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam ?”. Beliau menjawab bahwa saat masih hidup Habib Syech bin Abubakar Assegaf ketika memasuki bulan Maulid atau Robi’ul Awwal selalu bersemangat dan bergembira untuk menghadiri acara-acara Maulid dimanapun baik di Solo, Jakarta, hingga Jawa Timur, bahkan terkadang beliau tidak memikirkan kondisi kesehatan beliau karena terlalu bergembira dan mahabbah yang tinggi. kepada Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wa Sallam.
Wallahu ‘alam
Semoga dengan manaqib singkat ini kita bisa mendapatkan keberkahan dari beliau. Aamiin Ya Rabbal Alamin
- Video ketika Habib syech bin Abubakar Assegaf memimpin acara haul Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf tahun 1993
- Biografi Habib Syech bin Abubakar Assegaf di channel youtube Nabawi TV
- Sumber:
- Habib Muhammad Bin Syech Bin Abubakar Assegaf
- Facebook/Mediamjasolo
Ingin bertanya permasalahan Agama? Kirimkan pertanyaan Anda kepada Tim Asatidz Tafaqquh Nyantri Yuk, klik http://tanya.nyantriyuk.id